Tampilkan postingan dengan label 3.Product. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3.Product. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Oktober 2010

Siklus produk

Siklus hidup produk (bahasa Inggris: Product life cycle) adalah siklus hidup suatu produk/ organisasi dengan tahapan-tahapan proses perjalanan hidupnya mulai dari peluncuran awal (soft launching), peluncuran resmi (grand launching), perubahan dari target awal, lalu mulai berjuang dan berkompetisi dengan produk-produk yang sejenis, hingga melewati persaingan dan kompetisi produk memiliki tingkat penerimaan/ penjualan/ distribusi yang luas dan tersebar.
Dalam konteks organisasi siklus hidup suatu organisasi menjadi organisasi yang dihargai dan memiliki kredibilitas yang tinggi.
Setelah mencapai puncaknya maka produk akan turun dengan alamiah. Perubahan citra produk/ organisasi lalu dilakukan untuk mendukung inovasi dan menghindari penurunan drastis akibat kejenuhan produk. Jangka waktu titik jenuh tidak saja ditentukan dari jenis produk tapi bisa dilihat menggunakan indikator seperti penjualan produk, komplain yang tidak tertangani, distribusi dll.
Untuk memperpanjang siklus hidup produk dapat dilakukan upaya-upaya seperti: mendidik pasar, beriklan, menjaganya dengan penjualan dsb. Ada juga istilah daur ulang siklus produk yang diterapkan untuk menarik proyek dari penurunan dengan memperbaiki atau dengan perubahan lainnya, seperti pengemasan ulang dan pemotongan harga.

[sunting] Macam-macam siklus hidup dan produknya

Beberapa produk dirancang dengan siklus tertentu.
  • Barang-barang mode (fashion) mungkin memiliki siklus selama lima bulan, tetapi mobil (dengan sedikit modifikasi) memiliki siklus sepuluh tahun. Dalam kasus kendaraan bermotor, penggantian model akan dirancang untuk mengganti model lama ketika penjualan menurun pada tingkat yang tidak diharapkan.
  • Produk minuman seperti Guinness dan Coca-Cola memiliki siklus hidup yang tak terbatas.

[sunting] Kejenuhan siklus hidup produk

  • Kejenuhan eksternal: konsumen jenuh dan konsumen bosan karena produknya itu-itu saja.
  • Kejenuhan internal: pegawai mulai dari top level hingga pegawai jenuh dan tidak memiliki kemauan/ kemampuan untuk berinovasi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_produk

iradlogo.gif Food Irradiation: A Safe Measure

Food safety is a subject of growing importance to consumers. One reason is the emergence of new types of harmful bacteria or evolving forms of older ones that can cause serious illness. A relatively new strain of E. coli, for example, has caused severe, and in some cases life-threatening, outbreaks of food-borne illness through contaminated products such as ground beef and unpasteurized fruit juices.
Scientists, regulators and lawmakers, working to determine how best to combat food-borne illness, are encouraging the use of technologies that can enhance the safety of the nation’s food supply.
Many health experts agree that using a process called irradiation can be an effective way to help reduce food-borne hazards and ensure that harmful organisms are not in the foods we buy. During irradiation, foods are exposed briefly to a radiant energy source such as gamma rays or electron beams within a shielded facility. Irradiation is not a substitute for proper food manufacturing and handling procedures. But the process, especially when used to treat meat and poultry products, can kill harmful bacteria, greatly reducing potential hazards.
The Food and Drug Administration has approved irradiation of meat and poultry and allows its use for a variety of other foods, including fresh fruits and vegetables, and spices. The agency determined that the process is safe and effective in decreasing or eliminating harmful bacteria. Irradiation also reduces spoilage bacteria, insects and parasites, and in certain fruits and vegetables it inhibits sprouting and delays ripening. For example, irradiated strawberries stay unspoiled up to three weeks, versus three to five days for untreated berries.
Food irradiation is allowed in nearly 40 countries and is endorsed by the World Health Organization, the American Medical Association and many other organizations.
Irradiation does not make foods radioactive, just as an airport luggage scanner does not make luggage radioactive. Nor does it cause harmful chemical changes. The process may cause a small loss of nutrients but no more so than with other processing methods such as cooking, canning, or heat pasteurization. Federal rules require irradiated foods to be labeled as such to distinguish them from non-irradiated foods.
Studies show that consumers are becoming more interested in irradiated foods. For example, the University of Georgia created a mock supermarket setting that explained irradiation and found that 84 percent of participating consumers said irradiation is “somewhat necessary” or “very necessary.” And consumer research conducted by a variety of groups, including the American Meat Institute, the International Food Information Council, the Food Marketing Institute, the Grocery Manufacturers of America, and the National Food Processors Associationhas found that a large majority of consumers polled would buy irradiated foods.
Some special interest groups oppose irradiation or say that more attention should be placed on food safety in the early stages of food processing such as
in meat plants. Many food processors and retailers reply that irradiation can be an important tool for curbing illness and death from food-borne illness. But
it is not a substitute for comprehensive food safety programs throughout the food distribution system. Nor is irradiation a substitute for good food-handling practices in the home. 

http://mdiproduct.wordpress.com/category/proses-produksi-mdi/

EMS

EMS merupakan layanan Premium PT.Pos Indonesia (persero) untuk pengiriman dokumen dan barang dagangan ke Luar Negeri. Kiriman Express ke 83 Negara yang masuk dalam jaringan EMS. Pengiriman maupun penerimaan dapat melakukan pelacakan kiriman secara elektronik.
brosur6.jpg (5904 bytes)
Layanan EMS tersedia di lebih dari 130 Kantor Pos di seluruh Indonesia dan dilayani pada setiap hari kerja.

http://www.posindonesia.co.id/produk_detail.php?id=26

Mix Bottom Fuel (MBF) – Alternatif Pembakaran dalam Industri

Sabtu lalu saya bertemu dengan seorang kawan dan kami berbincang-bincang mengenai energi alternatif pembakaran dalam industri “Residu Oil (MBF)” yang sekarang disempurnakan menjadi “Mix Bottom Fuel (MBF)“. Harga minyak dunia yang naik ikut mendorong kenaikan harga solar (BBM) yang banyak digunakan untuk pembakaran dalam industri. Residu (Bottom Oil) merupakan bahan bakar cair berat yang mempunyai sifat penguapan yang relatif rendah, kekentalan tinggi dan digunakan sebagai bahan bakar mesin industri, boiler.
Residu dibuat dari fraksi residu yang berasal dari distilasi atmosferik.
Kualitas residu harus diperhatikan agar dalam pemakaiannya aman dan tidak menyebabkan kerusakan/buntu pada nozzle burner atau combustion chamber.
Digunakannya residu (Bottom Oil) sebagai bahan bakar daripada batubara karena mempunyai keuntungan sebagai berikut:
  • Nilai kalori yang cukup tinggi
  • Harga per kalori lebih murah
  • Biaya operasi dan penanganannya lebih murah
  • Tidak mengandung logam berat
  • Kadar abu lebih rendah
  • Tidak rusak pada penyimpanan dalam waktu yang lama
  • Memiliki efisiensi yang tinggi pada sistem pembakaran
Residu Oil (warna hitam pekat) merupakan istilah yang umum digunakan untuk MFO.
Yang paling sederhana:
1. Bobot Jenis / Densitas
Diukur menggunakan araometer / densimeter, hasil bisa langsung dilihat di alat. (Standar 0.93 – 0.94)
2. Visual
Warna : hitam pekat (agak cemerlang, tidak kusam/keruh)
Aroma : normal bahan bakar (tidak ada aroma asing)
Kekentalan : tidak terlalu encer
3. Test Nyala
Basahi kertas kering dengan MFO tersebut, lalu bakar. Nyala api merata dan tidak `bergemericik.
Kalau yang bukan murni ada bahan-bahan lain yang sengaja ditambahkan:
- air sungai
- oli bekas
Kalau asli bagus dan tanpa campuran.
Daftar pabrik/industri yang menggunakan MBF:
  • Pabrik pengalengan ikan
  • Pabrik besi
  • Pabrik baja

Produk

Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dalam marketing, produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan.[1] Dalam tingkat pengecer, produk sering disebut sebagai merchandise. Dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk barang mentah dan dijual sebagai barang jadi. Produk yang berupa barang mentah seperti metal atau hasil pertanian sering pula disebut sebagai komoditas.
Kata produk berasal dari bahasa Inggris product yang berarti "sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya".[2] Bentuk kerja dari kata product, yaitu produce, merupakan serapan dari bahasa latin prōdūce(re), yang berarti (untuk) memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Pada tahun 1575, kata "produk" merujuk pada apapun yang diproduksi ("anything produced").[3] Namun sejak 1695, definisi kata product lebih merujuk pada sesuatu yang diproduksi ("thing or things produced"). Produk dalam pengertian ekonomi diperkenalkan pertama kali oleh ekonom-politisi Adam Smith.[4]
Dalam penggunaan yang lebih luas, produk dapat merujuk pada sebuah barang atau unit, sekelompok produk yang sama, sekelompok barang dan jasa, atau sebuah pengelompokan industri untuk barang dan jasa.

http://id.wikipedia.org/wiki/Produk